SEKILAS INFO
WAKTU :

WAKTU SHALAT, Sunday, 22 07 2018 July 2018 >

IMSYAK 04:21
SUBUH 04:35
DZUHUR 11:45
ASHAR 15:06
MAGHRIB 17:36
ISYA 18:50
Diterbitkan :
Kategori : NEWS UPDATE / PENDIDIKAN / SOSIAL BUDAYA
Komentar : 0 komentar

Catatan kritis Adian Husaini pantas direnungkan. Terlebih dalam kaitan dengan momentum peringatan Dekrit Presiden yang ke-58 pada tanggal 5 Juli 2017. Telah dinyatakan oleh salah seorang Cendekiawan Muslim dari Universitas Ibnu Khaldun tersebut (Rajam Dalam Arus Budaya Syahwat, 2001) bahwa meskipun sudah menyatakan kemerdekaannya sejak tahun 1945 hingga kini Indonesia masih terus berada dipersimpangan jalan, apakah melanjutkan warisan kolonial atau melanjutkan warisan Islam.

Masih menurut salah seorang murid dari M. Naquib Al-Attas tersebut bahwa kenyataannya, dominasi kaum sekular dalam kehidupan politik di Indonesia telah menempatkan Indonesia menjadi satelit dan “budak” kaum kolonial. Mengapa bangsa ini tidak mau belajar dari sejarah dan masih terus-menerus melestarikan cengkeraman kaum kolonial Kristen?

Mengenai peristiwa terbitnya dekrit tersebut bisa diikuti dalam pernyataan Ahmad Mansur Suryanegara. Menurut Sejarawan Muslim dari Unpad tersebut (Api Sejarah, 2010) bahwa pada 5 Juli 1959, dari Istana Merdeka ditetapkan Dekrit Presiden kembali ke UUD 1945. Dinyatakan bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai Undang-Undang Dasar 1945 dan adalah merupakan suatu rangkaian dengan konstitusi tersebut.

Mencermati isi dekrit tersebut sekalipun tujuh kata dari Piagam Jakarta dihilangkan, tetapi ia menjiwai UUD 1945 dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari konstitusi. Menurut Rifyal Ka’bah (Politik dan Hukum dalam Al-Qur’an, 2005) bahwa jiwa Piagam Jakarta inilah yang telah melahirkan berbagai undang-undang dan peraturan perundang-undangan Islam dalam negara Republik Indonesia sampai sekarang.

Beberapa peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan setelah tahun 1959 merujuk atau menjadikan Piagam Jakarta sebagai konsideran. Menurut Adian Husaini (Pancasila Bukan Untuk Menindas Hak Konstitusi Umat Islam, 2010) diantaranya adalah penjelasan atas Penpres 1/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama juga dalam Peraturan Presiden No. 11 tahun 1960 tentang Pembentukan Institut Agama Islam Negeri (IAIN).

Dengan demikian dekrit tersebut sebagaimana komentar Prawoto –Ketua Umum Partai Islam Masyumi– menjadi landasan bersama bagi semua aliran dan golongan warga negara Indonesia, yang harus ditegakkan bersama-sama dengan saling menghormati identitas masing-masing (Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta 22 Juni 1945, 1997).

Sehingga tuduhan kepada umat Islam yang berjuang bagi berlakunya Syariat Islam sebagai fihak yang intoleran dan tidak berbineka tunggal ika tidak lagi menghiasi wacana publik. Allohu Al-Musta’an.

Penulis : Bambang Purwanto

SebelumnyaSaatnya Dakwah Ekonomi Dilaksanakan SesudahnyaBerdayakan Ekonomi Umat, Takmir Masjid Nurul Falah Gelar Pasar Sore Ramadan
Budaya Silaturahmi : Tautkan Hati Lintas Generasi Budaya Silaturahmi : Tautkan Hati Lintas Generasi
Salah satu yang khas dari umat Islam bangsa Indonesia adalah budaya silaturahmi. Karena dilakukan dalam rangkaian perayaan Idul Fitri. Buktinya antara lain adalah saling mengunjungi di antara saudara. teman dan...
Jamaah Masjid Nurul Falaah Kedungpuji Galang Dana Peduli Palestina Jamaah Masjid Nurul Falaah Kedungpuji Galang Dana Peduli Palestina
KEBUMEN (kebumenekspres.com) – Masjid Nurul Falaah Desa Kedungpuji Kecamatan Gombong peduli dengan kondisi Umat Muslim di Negeri Syam. Muslim satu dengan muslim yang lain merupakan saudara, dengan demikian penderitaan Umat...
Warga Berburu Takjil di Pasora Desa Kedungpuji Warga Berburu Takjil di Pasora Desa Kedungpuji
KEBUMEN (kebumenekspres.com) – Masjid Nurul Falaah yang berada di Desa Kedungpuji Kecamatan Gombong memiliki tradisi tersendiri saat bulan ramadan. Selama sebulan penuh, masjid tersebut menggelar program Pasar Sore Ramadhan (Pasora)....
Berdayakan Ekonomi Umat, Takmir Masjid Nurul Falah Gelar Pasar Sore Ramadan Berdayakan Ekonomi Umat, Takmir Masjid Nurul Falah Gelar Pasar Sore Ramadan
Gombong, (kebumen.sorot.co) –┬áDalam rangka mewujudkan masjid sebagai pusat peradaban islam, Takmir Masjid Nurul Falaah, Desa Kedungpuji, Kecamatan Gombong menggelar Pasar Sore Ramadan (Pasora). Pasora tersebut merupakan salah satu program tahunan...
Saatnya Melanjutkan Warisan Islam : Sebuah Renungan Saatnya Melanjutkan Warisan Islam : Sebuah Renungan
Catatan kritis Adian Husaini pantas direnungkan. Terlebih dalam kaitan dengan momentum peringatan Dekrit Presiden yang ke-58 pada tanggal 5 Juli 2017. Telah dinyatakan oleh salah seorang Cendekiawan Muslim dari Universitas...
Saatnya Dakwah Ekonomi Dilaksanakan Saatnya Dakwah Ekonomi Dilaksanakan
GOMBONG (NurfalNews) – Mayoritas masyarakat masih cenderung memaknai agama hanya sebagai urusan ukhrowi (akherat) semata. Padahal ajaran dalam agama sebenarnya telah lengkap untuk mengatur semua sendi kehidupan. Untuk itu untuk...


TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.