SEKILAS INFO
WAKTU :

WAKTU SHALAT, Sunday, 22 07 2018 July 2018 >

IMSYAK 04:21
SUBUH 04:35
DZUHUR 11:45
ASHAR 15:06
MAGHRIB 17:36
ISYA 18:50
Diterbitkan :
Kategori : NEWS / NEWS UPDATE
Komentar : 0 komentar

Pelaksanaan Syariat Islam di Nusantara pada masa lalu adalah sebuah fakta sejarah. Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta awalnya telah menggunakan hukum Islam dalam pengadilan yang diselenggarakan. Lembaga pengadilan ini secara resmi diberi nama Al-Mahkamah Al-Kabirah. Namun masyarakat Jawa pada masa itu lebih mengenalnya dengan sebutan Pengadilan Surambi sebab pelaksanaannya dilakukan di serambi Masjid Agung.

Pengadilan Surambi dilaksanakan berdasarkan syariat Islam dengan cakupan meliputi pengadilan untuk perkara hukum pidana, perkawinan, talak, dan warisan. Hukum Pidana disini berkaitan dengan kejahatan seperti pencurian, pembunuhan, dan lain sebagainya. Sementara penanganan Pidana administrasi dan persoalan Agraria (pasiten) dilaksanakan oleh Pengadilan Bale Mangu. Di Yogyakarta, pengadilan Surambi dilaksanakan di serambi Masjid Ageng Ngayogyakarta.

Dalam pengadilan tersebut, Kedua keraton telah menggunakan kitab Undang-Undang yang disebut Kitab Angger-angger. Kitab ini sengaja disusun secara bersama oleh kedua kerajaan untuk memenuhi kebutuhan Keraton akan pelaksanaan hukum Islam di wilayahnya. Kitab Angger-angger ini disusun dari sejumlah kitab antara lain kitab Moharrar (muharrar), kitab Mahalli, kitab Topah (Tuhfah), kitab Patakulmungin (Fathul Muin), dan kitab Patakulwahab (Fathulwahab). Pengurus pengadilan ini terdiri 10 (sepuluh) orang antara lain Kyai Pengulu sebagai ketua, anggota Pathok Nagari yang terdiri 4 (empat) orang, seorang Pengulu Hakim, dan sisanya terdiri dari para Ketib (katib).

Pasca Perang Diponegoro, Pengadilan Surambi di Kasultanan Ngayogyakarta diberhentikan atas prakarsa penjajah Belanda dengan dikeluarkannya Resolusi No. 29 tertanggal 11 Juni 1831. Sejak saat itu masalah pidana yang sebelumnya menjadi wewenang Pengadilan Surambi ditangani oleh Rechtsbank voor Criminele Zaken (Pengadilan Hukum Pidana).

Gambar: Masjid Ageng Ngayogyakarta, tempat Pengadilan Surambi, pada sekitar tahun 1900 dikelilingi telaga buatan sebagai simbol “wa ‘arsyuhu ‘alal maa’.” (dan arasy-Nya di atas air))

SebelumnyaKEJAHATAN SEKSUAL VERSUS KEMERDEKAAN SEKSUAL SesudahnyaSEKULARISASI SEKSUALITAS
Budaya Silaturahmi : Tautkan Hati Lintas Generasi Budaya Silaturahmi : Tautkan Hati Lintas Generasi
Salah satu yang khas dari umat Islam bangsa Indonesia adalah budaya silaturahmi. Karena dilakukan dalam rangkaian perayaan Idul Fitri. Buktinya antara lain adalah saling mengunjungi di antara saudara. teman dan...
Jamaah Masjid Nurul Falaah Kedungpuji Galang Dana Peduli Palestina Jamaah Masjid Nurul Falaah Kedungpuji Galang Dana Peduli Palestina
KEBUMEN (kebumenekspres.com) – Masjid Nurul Falaah Desa Kedungpuji Kecamatan Gombong peduli dengan kondisi Umat Muslim di Negeri Syam. Muslim satu dengan muslim yang lain merupakan saudara, dengan demikian penderitaan Umat...
Warga Berburu Takjil di Pasora Desa Kedungpuji Warga Berburu Takjil di Pasora Desa Kedungpuji
KEBUMEN (kebumenekspres.com) – Masjid Nurul Falaah yang berada di Desa Kedungpuji Kecamatan Gombong memiliki tradisi tersendiri saat bulan ramadan. Selama sebulan penuh, masjid tersebut menggelar program Pasar Sore Ramadhan (Pasora)....
Berdayakan Ekonomi Umat, Takmir Masjid Nurul Falah Gelar Pasar Sore Ramadan Berdayakan Ekonomi Umat, Takmir Masjid Nurul Falah Gelar Pasar Sore Ramadan
Gombong, (kebumen.sorot.co) –┬áDalam rangka mewujudkan masjid sebagai pusat peradaban islam, Takmir Masjid Nurul Falaah, Desa Kedungpuji, Kecamatan Gombong menggelar Pasar Sore Ramadan (Pasora). Pasora tersebut merupakan salah satu program tahunan...
Saatnya Melanjutkan Warisan Islam : Sebuah Renungan Saatnya Melanjutkan Warisan Islam : Sebuah Renungan
Catatan kritis Adian Husaini pantas direnungkan. Terlebih dalam kaitan dengan momentum peringatan Dekrit Presiden yang ke-58 pada tanggal 5 Juli 2017. Telah dinyatakan oleh salah seorang Cendekiawan Muslim dari Universitas...
Saatnya Dakwah Ekonomi Dilaksanakan Saatnya Dakwah Ekonomi Dilaksanakan
GOMBONG (NurfalNews) – Mayoritas masyarakat masih cenderung memaknai agama hanya sebagai urusan ukhrowi (akherat) semata. Padahal ajaran dalam agama sebenarnya telah lengkap untuk mengatur semua sendi kehidupan. Untuk itu untuk...


TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.