SEKILAS INFO
WAKTU :

WAKTU SHALAT, Saturday, 18 08 2018 August 2018 >

IMSYAK 04:20
SUBUH 04:34
DZUHUR 11:44
ASHAR 15:05
MAGHRIB 17:35
ISYA 18:49
Diterbitkan :
Kategori : NEWS / NEWS UPDATE / SOSIAL BUDAYA
Komentar : 0 komentar

Ketika sempitnya lapangan pekerjaan di daerah tak ada pilihan bagi tenaga kerja terdidik adalah melakukan urbanisasi ke kota-kota demi mendapatkan pekerjaan yang layak, ketika di kampung tak lagi menjanjikan apa-apa kecuali mengabadikan kekurangan alias kemiskinan. Dalam pembicaraan di komite pengentasan kemiskinan ditingkat kabupaten terindikasi berbagai sebab kemiskinan di daerah.

Kaum urban sejak lama sudah menjadi pahlawan bagi keluarga, kampungnya bahkan negaranya ketika mereka telah mendatangkan devisa bagi Negara. Mereka sangat berharga bagi keluarga besarnya apalagi bila diantara mereka ada yang menjadi pelopor untuk berani pergi meninggalkan kampung halamannya mengadu nasib dengan penderitaan yang siap diterima apapun resikonya.

Kisah duka para perintis urban bahkan sejak jaman penjajahanpun mereka sudah sampai ke luar negeri menjelajah ke negeri seberang bahkan ada yang tak kembali lagi dan sekarang terdengar sayup-sayup kisah sukses mereka di negeri nan jauh misalnya di Suriname.

Adalah seorang pemuda di tahun 60an yang bingung menatap masadepan setelah setiap hari hanya menjadi pengembala kerbau yang upahnya hanya beberapa kwintal padi kering untuk satu tahun, namun ia rela saja melakukan itu karena setiap hari bisa makan kenyang

Karena di era waktu itu untuk bisa makan kenyang nasi putih lauk sayur ketewel dan pepes semayi adalah suatu hal yang cukup sulit, kebanyakan masyarakat kita makan intil, oyek, sawut atau budin gesrek, maka di beberapa tempat masih ada warga masyarakat yang terkena penyakit Udim, kakinya bengkak karena kekuarangan Vitamin B.

Ketika berbincang asik dengan induk semangnya membicarakan tentang nasib hidupnya kedepan, maka sang juragan mengarahkan “yah paling tidak kamu tamat SMP dulu biar nanti ada modal pendidikan”.

Bersyukur dia punya induk semang yang ingin agar anak buahnya bisa maju, kemudian sang gembala pergi ke kota membawa bekal hasil jual padi ongkos gembala kerbau setahun, masih di beri baju bekas sang majikan yang pada waktu itu sang Juragan juga tak punya banyak pakaian bagus.

Sang gembala senantiasa ingat nasehat bekas juragannya dikampung, agar prihatin, jadi orang harus jujur, giat bekerja. Begitu asiknya dia, waktu sudah lebih lima belas tahun, ketika siang yang cerah berbeloklah ke rumah sang Juragan (yang masih tak berubah seperti 15 tahun lalu) sebuah mobil Colt Mitsubitsi berpenumpang sebuah keluarga dengan dua anaknya, nampak sebagai sebuah keluarga bahagia. Sang bekas juragan cukup puas melihat kesuksesan bekas tukang gembalanya itu.

Hanya saja kemudian ada nasehat yang yang membuat sang bekas anak buahnya itu menunduk membisu ketika ada kesempatan duduk berdua, dengan sikap sebagai orangtua yang peduli kepada anaknya dikatakan kepadanya :…. saya dengar kamu sekarang berani meninggalkan shalat, mau berjudi dan minum minuman keras….apa betul begitu ?…dadi wong aja kaya petruk dadi ratu, aji mumpung, sombong angkuh, urip sing eling lan waspodo… syukur sang bekas gembala itu masih menganggap sang bekas majikan itu sebagai orangtua ke dua,

Dia menangis mencium tangan sang juragan, yang mengatakan dengan nada sendu…aku ora butuh kowe nukokna apa-apa, aku wis seneng kowe bisa dadi wong sing sukses, tapi ya kuwe sing eling maring sing Kuwasa, aja kaya Qorun sing akhire di Caplok bumi, sugiha sundul langit nek wani ninggalna shalat ora ana regane, aku ora gumun, bisa dideleng kae wong-wong sing uripe pada ora eling mabok kedunyan, apa ora sadar nek calone arep dadi batang/ bangkai…

Budaya Mudik Lebaran

Pulang ketika lebaran merayakan hari raya setahun sekali bersama handai taulan, karib kerabat adalah suatu kebahagiaan tersendiri. Bisa bernostalgia bertemu rekan-rekan waktu masih di desa, mengingat masa kecil mandi di sungai dan lain sebagainya.

Kebahagiaan mudik lebaran yang sudah menjadi budaya yang selalu diperjuangkan dengan resiko macet dan sengsaranya di perjalanan tak dirisaukan. Walau ada segelintir orang yang tak lagi mau mudik lebaran karena sulitnya perjalanan tapi arus bah mudik itu ternyata selalu bertambah tahun ini naik 20%.

Tiket kereta api sudah habis terjual pulang pergi sejak 4 bulan sebelum lebaran, masya Allah ternyata semangat untuk silaturrahim bangsa ini masih begitu tinggi walau dengan resiko yang besar, mudah-mudahan amaliyah ini memberikan berkah tersendiri bagi kebaikan bangsa ini.

Hanya karena satu semangat fitriyah budaya mudik teta terbangun budaya Silaturrahim, yang dalam agama memberikan berkah : panjang umur, tambah rejeki, karena dido’akan oleh semua makhluk.

Kebanggaan Mudik

Kebanggaan Mudik Lebaran jangan diartikan untuk kesombongan pamer keberhasilan karena itu tak ada artinya apa-apa, seberapa banyak kekayaan yang kita miliki akan mudah habis terbelanjakan atau hilang tak ada gunanya.

Mudik lebaran dalam arti yang sangat sederhana telah memberikan motivasi pisitif bahwa manusia itu harus merubah nasibnya kearah yang lebih baik, bila di kampungnya sangat sulit berkembang maka ia harus mencari tempat yang bisa memberi ruang gerak untuk bisa ber-ekspresi sehingga kepuasan diri sebagai orang yang telah mampu berkarya terlunasi.

Lepas dari sisi yang dikatakan sebagai negatif, yaitu meledaknya urbanisasi yang telah menjadi problem-problem perkotaan tapi pada kenyataannya kota-kota masih juga membutuhkan tenaga-tenaga sebagai power dari tumbuhnya peradaban perkotaan sebagai suatu konsekwensi jaman yang selalu bergerak.

Barangkali sebagai filter untuk mengurangi arus urbanisasi apalagi bagi mereka yang sulit untuk ikut berkompetisi dalam gerak laju perkotaan maka ada saja ide-ide untuk meningkatkan geliat perkembangan desa agar desa tidak memupuk kemiskinan dan keterbelakangan.

Perjuangan agar arus urbanisasi tidak meledak disamping telah adanya proyek-proyek seperti PNPM juga dengan usulan Alokasi Dana Untuk Desa (ADD) dengan jumlah yang mencukupi, dengan adanya UU tentang desa maka bukan mustahil desa akan mendapatkan dana sampai satu milyar per tahun.

Dari itu diharap geliat desa untuk berbenah sehingga akan memberikan kenyamanan bagi penghuninya bisa sebagai benteng agar warga desa tidak berbondong-bondong lari ke perkotaan. Sebetulnya rumusan kenapa ada arus urbanisasi adalah tentang ADA GULA ADA SEMUT, dimana ketika desa tak lagi bisa memberikan sesuatu maka rakyat akan berbondong-bondong pergi kekota.

Ternyata kebanggaan kaum urban bukan saja membawa kekayaan material ke kampung, ada dari mereka yang tidak saja berhasil membawa dalam bentuk materi tapi teknologi industry sederhana yang bisa di operasikan di desa, seperti Bapak Ponirin yang telah mampu membuat industry pembuatan Kaos Kaki, yang tadinya bagi kebanyakan orang menjadi suatu kemustahilan ternyata bagi seorang Pak Ponirin bisa jadi suatu kenyataan.

Kita menunggu kaum urban yang lain seperti Bapak Ponirin, yang bisa mampu membawa pulang teknologi untuk bisa dikembangkan di desa, yang jelas bukan hanya tekonologi untuk industry Kaos Kaki, mungkin perakitan elektronik, olah hasil pertanian, kuliner dan lain sebagainya. ***

Penulis : Ustadz Yunus Anies

SebelumnyaPEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA BERBASIS MASJID SesudahnyaPenanggulangan Kemiskinan di Pedesaan
Cintai Nabi, Makmurkan Masjid dan Majukan Desa Cintai Nabi, Makmurkan Masjid dan Majukan Desa
Rindu kami padamu ya Rasul, Rindu tiada terperi, Berabad jarak darimu ya Rasul, Serasa dikau disini, Cinta ikhlasmu pada manusia, Bagai cahaya suwarga, Dapatkah kami membalas cintamu, Secara bersahaja. #######...
Perempuan Hebat Di Balik H.O.S. Tjokroaminoto Perempuan Hebat Di Balik H.O.S. Tjokroaminoto
“Ayahanda! Dahulu anakanda dikawinkan oleh ayah-bunda, sedangkan anakanda pada waktu itu tidak kenal dengan Mas Tjokro. Anakanda taat! Kini anakanda pun tetap taat. Kalau ayah-bunda ceraikan anakanda dari Mas Tjokro,...
Merindukan Pemimpin Sejati Merindukan Pemimpin Sejati
“….Tetapi pemimpin sejati tetap ingat; umur di dunia tidaklah akan lama, tetapi umur sejarahlah yang lebih lama.” (Buya Hamka) ###### Itulah antara lain yang ditulis oleh Buya Hamka (“Pemimpin Sejati” dalam...
Yang Muda, Yang Berprestasi : Impian Setiap Orang Tua Yang Muda, Yang Berprestasi : Impian Setiap Orang Tua
“Muhammad Al-Fatih adalah pemimpin hebat yang dalam usia sangat muda berhasil menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1543. Ia adalah contoh kisah sukses model pendidikan yang menekankan pada penanaman adab dan kesungguhan...
Cerdas dan Berkarakter: Sebuah Impian dari Pesantren Cerdas dan Berkarakter: Sebuah Impian dari Pesantren
Dalam buku “Rekonstruksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia” dikatakan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan pertama yang dikenal oleh umat Islam di Indonesia. Menurut Akbar Zainudin (Ketika Sukses Berawal Dari Pesantren,...
Mencari Teman Sejati Mencari Teman Sejati
“Selama ini, Ku mencari-cari, Teman yang sejati, Buat menemani, Perjuangan suci”. Itulah bait pertama dari sebuah lagu yang berjudul “Teman Sejati.” Dalam kaitan ini peringatan dari Buya Hamka pantas diperhatikan....


TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.