SEKILAS INFO
WAKTU :

WAKTU SHALAT, Saturday, 18 08 2018 August 2018 >

IMSYAK 04:20
SUBUH 04:34
DZUHUR 11:44
ASHAR 15:05
MAGHRIB 17:35
ISYA 18:49
Diterbitkan :
Kategori : NEWS / NEWS UPDATE / PENDIDIKAN
Komentar : 0 komentar

“Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup di dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Pembangun insan cendikia”.

Itulah lirik dari lagu “Hymne Guru” karya Sartono. Sebuah lagu yang berisi pujian atas pengabdian para pembangun insan cendikia. Mereka itulah yang sehari-harinya bukan hanya mengajar tetapi juga mendidik. Sehingga anak bangsa yang telah dipercayakan oleh orang tuanya kepada mereka menjadi manusia yang adil dan beradab. Artinya tidak hanya menjadi anak yang pintar saja tetapi juga menjadi anak yang benar. Bisa bersikap secara tepat kepada Alloh, Rasul-Nya, dirinya sendiri, dan kepada lingkungan di sekitarnya. Tetapi dari berita di media seperti yang dialami Bapak Guru Samhudi misalnya sungguh tragis. Nasibnya kini harus duduk di kursi sebagai pesakitan. Sebagai akibat dari cubitannya kepada salah seorang murid yang kemudian dilaporkan oleh oknum orang tua murid tersebut kepada aparat penegak hukum.

Ada catatan menarik dari Felix Y. Siauw ( Muhammad Al-Fatih 1453, 2013) tentang salah satu dari dua orang guru yang selalu mendampingi Muhammad Al-Fatih —Sang Penakluk Konstantinopel pada tahun 1453 M. Namanya Syaikh Ahmad Al-Kurani. Ketika bertemu dengan muridnya yang saat itu sudah remaja, Syaikh Ahmad Al-Kurani berkata kepadanya : “Ayahmu telah mengutusku untuk mendidikmu dan memukulmu bila engkau menuruti perintahku”. Mendengar ucapan itu, Muhammad tertawa dan menganggap itu hanya gertakan saja. Seketika itu, dipukullah ia dengan tongkat oleh Al-Kurani dengan pukulan yang amat keras di tengah-tengah majlis hingga Muhammad jera dan segan kepada gurunya itu.

Bandingkan antara yang telah dialami oleh Bapak Guru Samhudi yang hanya mencubit muridnya dengan Syaikh Al-Kurani kepada muridnya. Gara-gara cubitan maka guru yang pertama harus berurusan dengan aparat penegak hukum karena dilaporkan oleh orang tua muridnya tetapi guru yang kedua justru diminta oleh orang tua muridnya untuk memukul anaknya jika tidak memperhatikan gurunya.

Dihadapkan kepada perkembangan situasi yang cenderung tidak kondusif tersebut ada baiknya diperhatikan panduan dan arahan Islam. Baik yang menyangkut bagaimana seharusnya menjadi orang tua dan juga untuk para guru sehingga menjadi sosok yang “digugu lan ditiru” (dipercaya dan diikuti).

Untuk para orang tua Muslim hendaknya memperhatikan ucapan Lukman kepada putranya seperti dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani : “Wahai anakku engkau harus duduk dekat ulama. Dengarkanlah perkataan ahli hikmah, karena sesungguhnya Alloh menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah, sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang mati dengan hujan yang deras”.

Ada kalimat yang bagus dari Imam Syafi’i saat diminta menasehati guru untuk anaknya Harun Al-Rasyid : “Perbaikilah dirimu sebelum kau perbaiki mereka, karena mata mereka terikat padamu. Apa yang kau lakukan mereka anggap baik, apa yang kau tinggalkan mereka anggap tidak baik”.

Dengan memperhatikan panduan dan nasihat tersebut diharapkan kejadian yang telah dialami antara lain oleh Bapak Guru Samhudi tidak terulang di masa yang akan datang. Dunia pendidikan akan selalu ditandai oleh kerja sama yang baik dari pihak orang tua dan guru di sekolah. Sehingga generasi anak bangsa yang adil dan beradab bisa sama-sama diwujudkan. Wallohu A’lam.

Penulis : Bambang Purwanto.

SebelumnyaREMAJA DAN JATI DIRI : Dalam Perspektif Islam SesudahnyaAYO BERBAGI
Cintai Nabi, Makmurkan Masjid dan Majukan Desa Cintai Nabi, Makmurkan Masjid dan Majukan Desa
Rindu kami padamu ya Rasul, Rindu tiada terperi, Berabad jarak darimu ya Rasul, Serasa dikau disini, Cinta ikhlasmu pada manusia, Bagai cahaya suwarga, Dapatkah kami membalas cintamu, Secara bersahaja. #######...
Perempuan Hebat Di Balik H.O.S. Tjokroaminoto Perempuan Hebat Di Balik H.O.S. Tjokroaminoto
“Ayahanda! Dahulu anakanda dikawinkan oleh ayah-bunda, sedangkan anakanda pada waktu itu tidak kenal dengan Mas Tjokro. Anakanda taat! Kini anakanda pun tetap taat. Kalau ayah-bunda ceraikan anakanda dari Mas Tjokro,...
Merindukan Pemimpin Sejati Merindukan Pemimpin Sejati
“….Tetapi pemimpin sejati tetap ingat; umur di dunia tidaklah akan lama, tetapi umur sejarahlah yang lebih┬álama.” (Buya Hamka) ###### Itulah antara lain yang ditulis oleh Buya Hamka (“Pemimpin Sejati” dalam...
Yang Muda, Yang Berprestasi : Impian Setiap Orang Tua Yang Muda, Yang Berprestasi : Impian Setiap Orang Tua
“Muhammad Al-Fatih adalah pemimpin hebat yang dalam usia sangat muda berhasil menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1543. Ia adalah contoh kisah sukses model pendidikan yang menekankan pada penanaman adab dan kesungguhan...
Cerdas dan Berkarakter: Sebuah Impian dari Pesantren Cerdas dan Berkarakter: Sebuah Impian dari Pesantren
Dalam buku “Rekonstruksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia” dikatakan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan pertama yang dikenal oleh umat Islam di Indonesia. Menurut Akbar Zainudin (Ketika Sukses Berawal Dari Pesantren,...
Mencari Teman Sejati Mencari Teman Sejati
“Selama ini, Ku mencari-cari, Teman yang sejati, Buat menemani, Perjuangan suci”. Itulah bait pertama dari sebuah lagu yang berjudul “Teman Sejati.” Dalam kaitan ini peringatan dari Buya Hamka pantas diperhatikan....


TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.