SHARE

“Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup di dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Pembangun insan cendikia”.

Itulah lirik dari lagu “Hymne Guru” karya Sartono. Sebuah lagu yang berisi pujian atas pengabdian para pembangun insan cendikia. Mereka itulah yang sehari-harinya bukan hanya mengajar tetapi juga mendidik. Sehingga anak bangsa yang telah dipercayakan oleh orang tuanya kepada mereka menjadi manusia yang adil dan beradab. Artinya tidak hanya menjadi anak yang pintar saja tetapi juga menjadi anak yang benar. Bisa bersikap secara tepat kepada Alloh, Rasul-Nya, dirinya sendiri, dan kepada lingkungan di sekitarnya. Tetapi dari berita di media seperti yang dialami Bapak Guru Samhudi misalnya sungguh tragis. Nasibnya kini harus duduk di kursi sebagai pesakitan. Sebagai akibat dari cubitannya kepada salah seorang murid yang kemudian dilaporkan oleh oknum orang tua murid tersebut kepada aparat penegak hukum.

Ada catatan menarik dari Felix Y. Siauw ( Muhammad Al-Fatih 1453, 2013) tentang salah satu dari dua orang guru yang selalu mendampingi Muhammad Al-Fatih —Sang Penakluk Konstantinopel pada tahun 1453 M. Namanya Syaikh Ahmad Al-Kurani. Ketika bertemu dengan muridnya yang saat itu sudah remaja, Syaikh Ahmad Al-Kurani berkata kepadanya : “Ayahmu telah mengutusku untuk mendidikmu dan memukulmu bila engkau menuruti perintahku”. Mendengar ucapan itu, Muhammad tertawa dan menganggap itu hanya gertakan saja. Seketika itu, dipukullah ia dengan tongkat oleh Al-Kurani dengan pukulan yang amat keras di tengah-tengah majlis hingga Muhammad jera dan segan kepada gurunya itu.

Bandingkan antara yang telah dialami oleh Bapak Guru Samhudi yang hanya mencubit muridnya dengan Syaikh Al-Kurani kepada muridnya. Gara-gara cubitan maka guru yang pertama harus berurusan dengan aparat penegak hukum karena dilaporkan oleh orang tua muridnya tetapi guru yang kedua justru diminta oleh orang tua muridnya untuk memukul anaknya jika tidak memperhatikan gurunya.

Dihadapkan kepada perkembangan situasi yang cenderung tidak kondusif tersebut ada baiknya diperhatikan panduan dan arahan Islam. Baik yang menyangkut bagaimana seharusnya menjadi orang tua dan juga untuk para guru sehingga menjadi sosok yang “digugu lan ditiru” (dipercaya dan diikuti).

Untuk para orang tua Muslim hendaknya memperhatikan ucapan Lukman kepada putranya seperti dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani : “Wahai anakku engkau harus duduk dekat ulama. Dengarkanlah perkataan ahli hikmah, karena sesungguhnya Alloh menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah, sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang mati dengan hujan yang deras”.

Ada kalimat yang bagus dari Imam Syafi’i saat diminta menasehati guru untuk anaknya Harun Al-Rasyid : “Perbaikilah dirimu sebelum kau perbaiki mereka, karena mata mereka terikat padamu. Apa yang kau lakukan mereka anggap baik, apa yang kau tinggalkan mereka anggap tidak baik”.

Dengan memperhatikan panduan dan nasihat tersebut diharapkan kejadian yang telah dialami antara lain oleh Bapak Guru Samhudi tidak terulang di masa yang akan datang. Dunia pendidikan akan selalu ditandai oleh kerja sama yang baik dari pihak orang tua dan guru di sekolah. Sehingga generasi anak bangsa yang adil dan beradab bisa sama-sama diwujudkan. Wallohu A’lam.

Penulis : Bambang Purwanto.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here