SEKILAS INFO
WAKTU :

WAKTU SHALAT, Saturday, 18 08 2018 August 2018 >

IMSYAK 04:20
SUBUH 04:34
DZUHUR 11:44
ASHAR 15:05
MAGHRIB 17:35
ISYA 18:49
Diterbitkan :
Kategori : KEDUNGPUJI NEWS
Komentar : 0 komentar

Tahun 2015 : Saatnya Kantor Desa dan Masjid Sinergi
Sore (Sabtu, 7/7/2015) menjelang kaum muslimin Desa Kedungpuji Kecamatan Gombong yang sedang menjalani ibadah puasa mengakhiri hari ke-20 dengan berbuka puasa terjadilah sebuah kegiatan yang menarik.

Sekitar 50-an orang yang terdiri dari unsur pemdes, lembaga-lembaga desa, ketua takmir masjid-mushola dan para dai-daiyah serta tokoh-tokoh masyarakat se Kedungpuji hadir di Aula Kantor Desa dalam acara Dialog Ramadhan yang diadakan oleh pemdes setempat.

Tema yang diangkat dalam dialog tersebut adalah “Kedungpuji Membangun dalam Tinjauan Syariah” dengan nara sumber pada acara tersebut, Mustika Aji, S.Pd yang biasa dipanggil dengan sebutan Kang Aji.

Beliau merupakan seorang aktifis muslim yang banyak terlibat pada program-program advokasi desa di Kabupaten Kebumen. Bahkan sudah sering diundang untuk kegiatan-kegiatan serupa di beberapa wilayah di tanah air.

Pengantar dialog disampaikan oleh Bambang Purwanto, S.Ag. yang dikenal sebagai aktifis masjid yang merupakan moderator pada forum tersebut. Menurutnya selama ini istilah pembangunan sudah sangat akrab bagi masyarakat. Tetapi yang perlu dicermati apakah proses pembangunan tersebut betul-betul memberikan kemaslahatan bagi masyarakat? dibuktikan dengan peningkatan kesejahteraan atau justru yang terjadi sebaliknya. Bukan pembangunan tetapi perusakan.

Seperti yang disinggung dalam Al-Qur’an tentang pembangunan yang dilakukan oleh orang-orang munafik. Masih menurut Bambang di sinilah urgensi dan strategisnya pertemuan ini sebagai media komunikasi antara pemdes dan para aktifis masjid dan mushola. Sehingga situasi selama ini yang ditandai oleh tidak adanya kerja sama antara kantor desa dengan masjid-mushola bisa diakhiri.

Harapannya adalah dengan dialog tersebut dapat dijadikan sebagai langkah awal menyamakan persepsi dan merumuskan langkah-langkah yang sinergik bagi keberlangsungan pembangunan di Desa Kedungpuji. Sehingga pada saatnya “blue-print” dari kegiatan “mbangun desa” tersebut, dapat disepakati oleh semua elemen yang ada.

Bagi Mustika Aji sendiri ternyata dialog tersebut tidak seperti dialog-dialog yang selama ini pernah diikuti. Karena di sini bukan hanya mengarah pada usaha tata kelola pemerintahan yang baik tetapi ada perspektif yang luar biasa yakni bagaimana agar desa tidak hanya menjadi qoryah thayyibah saja tetapi juga diampuni dan diridhai oleh Allah.

Kang Aji juga mengingatkan bahwa rumusan dari langkah-langkah untuk mewujudkan hal tersebut dalam bentuk RPJMDes (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa). Karena dokumen tersebut September harus sudah jadi maka tinggal sekitar 2 bulan bagi pemdes untuk menyelesaikannya.

Untuk itu saran Kang Aji harus segera diadakan forum-forum di masyarakat oleh simpul-simpul yang ada termasuk oleh para aktifis masjid-mushola. Dari hasil pembahasan forum-forum tersebut kemudian diteruskan sebagai bahan masukan bagi tim perumus RPJMDes di tingkat desa. Sehingga “glontoran” dana ke desa sebagai konsekuensi UU No. 6 Tahun 2014 tentang desa bisa betul-betul dialokasikan untuk pembangunan baik fisik maupun non-fisik dengan maksimal.

Ternyata lontaran pemikiran dari Kang Aji sangat menarik. Dibuktikan oleh adanya beberapa peserta dialog sebagai penanggap. Misalnya Munarsis yang menanyakan bidang-bidang apa saja yang boleh dimasukkan untuk rencana pembangunan yang non fisik???

Pada sesi tanya jawab tersebut, Drs. Agus Mohammad Jumali, M.Pd. menanyakan tentang komitmen pemdes untuk serius dalam usaha pembangunan desa yang bisa menyelematkan masyarakat dari praktek budaya dan transaksi ekonomi yang bertentangan dengan syariah Islam misalnya perjudian.

Sementara itu, masukan dari Muchyani, A.Ma.Pd. ternyata selama ini sudah ada perhatian dari pemdes kepada TPQ dan kegiatan remaja masjid dibuktikan dengan ada bantuan dana dari desa. Soal apakah bantuan tersebut sudah proposional atau belum dia mengaku tidak tahu karena saat musrenbangdes tidak pernah diundang sebagai peserta.

Tampaknya masih banyak pertanyaan yang akan disampaikan oleh para peserta dialog akan tetapi karena terbatasnya waktu sehingga dicukupkan hanya satu termin saja. Salah satunya adalah apa kontribusi aktifis muslim dalam sejarah terbitnya UU No. 6 Tahun 2014 tentang desa itu ???.

Berdasarkan catatan Misbah Sukmadi dalam bukunya ADD (Alokasi Dana Desa) & Geliat Perjuangan Masyarakat Desa justru adanya regulasi yang mengamanatkan kepada negara untuk mengalokasikan dana ke desa dari APBN itu rintisannya bermula dari Kabupaten Kebumen.

Dalam kaitan ini tidak bisa dilupakan pelaku sejarah tersebut, yang notabene seorang warga Desa Kedungpuji yakni Dra. Sri Winarti, M.H. (Anggota DPRD Kebumen 1999 – 2004 dari Partai Bulan Bintang) yang telah ikut membidani lahirnya Perda No. 3 Tahun 2004 tentang Alokasi Dana Desa.

Karena beliau menjadi tokoh kunci bagi disahkannya raperda tersebut dalam sidang DPRD Kebumen. Seperti yang diuraikan oleh Misbah: “Beruntung masih ada Dra. Sri Winarti dari F-Reformasi, yang datang terlambat, yang pada saat-saat tergenting itu menegaskan bahwa fraksinya menolak penundaan dan meminta pada rekan-rekannya di DPRD Kebumen supaya Perda ADD disahkan sebelum pemilu.

Dengan sikap tegasnya itu maka aspirasi dari masyarakat desa (Raperda ADD) ini dapat diselamatkan”. Kini setelah beliau tidak lagi sebagai anggota dewan tetap berkarya dalam membangun kesalehan pribadi dan kesalehan sosial melalui Yayasan Bina Insani Kebumen.

Sebuah perubahan yang baik di desa akan terjadi jika komunikasi yang lancar antara pemdes dan pilar-pilar masyarakat yang ada khususnya para aktifis masjid-mushola terus digalang. Maka Dialog Ramadhan kiranya bisa dijadikan agenda tahunan untuk saling bertemu dan berbagi pemikiran.

Selain itu dapat di jadikan sebagai media komunikasi lainnya yang mingguan seperti mimbar Jumat saat para birokrat desa bisa mendengarkan khutbah. Dengan komunikasi yang terjalin maka seperti yang dikatakan Ibnu Khaldun solidaritas sosial, penguatan SDM dan jiwa optimis yang dibuktikan dengan kerja keras dapat diwujudkan.

Sehingga cita-cita menjadikan Desa Kedungpuji sebagai Qoryah Thayyibah wa Robbun Ghafur bukan isapan jempol belaka.

Intanshurulloha yanshurkum wa yutsabbit aqdamakum. Allohu Akbar!!!

SebelumnyaISLAM PEMBANGKIT GERAKAN NASIONALISME DI INDONESIA SesudahnyaJelang Peringatan HUT RI ke 70 di Desa Kedungpuji, Gombong
Cintai Nabi, Makmurkan Masjid dan Majukan Desa Cintai Nabi, Makmurkan Masjid dan Majukan Desa
Rindu kami padamu ya Rasul, Rindu tiada terperi, Berabad jarak darimu ya Rasul, Serasa dikau disini, Cinta ikhlasmu pada manusia, Bagai cahaya suwarga, Dapatkah kami membalas cintamu, Secara bersahaja. #######...
Perempuan Hebat Di Balik H.O.S. Tjokroaminoto Perempuan Hebat Di Balik H.O.S. Tjokroaminoto
“Ayahanda! Dahulu anakanda dikawinkan oleh ayah-bunda, sedangkan anakanda pada waktu itu tidak kenal dengan Mas Tjokro. Anakanda taat! Kini anakanda pun tetap taat. Kalau ayah-bunda ceraikan anakanda dari Mas Tjokro,...
Merindukan Pemimpin Sejati Merindukan Pemimpin Sejati
“….Tetapi pemimpin sejati tetap ingat; umur di dunia tidaklah akan lama, tetapi umur sejarahlah yang lebih lama.” (Buya Hamka) ###### Itulah antara lain yang ditulis oleh Buya Hamka (“Pemimpin Sejati” dalam...
Yang Muda, Yang Berprestasi : Impian Setiap Orang Tua Yang Muda, Yang Berprestasi : Impian Setiap Orang Tua
“Muhammad Al-Fatih adalah pemimpin hebat yang dalam usia sangat muda berhasil menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1543. Ia adalah contoh kisah sukses model pendidikan yang menekankan pada penanaman adab dan kesungguhan...
Cerdas dan Berkarakter: Sebuah Impian dari Pesantren Cerdas dan Berkarakter: Sebuah Impian dari Pesantren
Dalam buku “Rekonstruksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia” dikatakan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan pertama yang dikenal oleh umat Islam di Indonesia. Menurut Akbar Zainudin (Ketika Sukses Berawal Dari Pesantren,...
Mencari Teman Sejati Mencari Teman Sejati
“Selama ini, Ku mencari-cari, Teman yang sejati, Buat menemani, Perjuangan suci”. Itulah bait pertama dari sebuah lagu yang berjudul “Teman Sejati.” Dalam kaitan ini peringatan dari Buya Hamka pantas diperhatikan....


TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.