SEKILAS INFO
WAKTU :

WAKTU SHALAT, Saturday, 18 08 2018 August 2018 >

IMSYAK 04:20
SUBUH 04:34
DZUHUR 11:44
ASHAR 15:05
MAGHRIB 17:35
ISYA 18:49
Diterbitkan :
Kategori : KAJIAN / KEDUNGPUJI NEWS
Komentar : 0 komentar

Dakwah Islam adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan dengan kesungguhan secara bersama-sama dan terus menerus. Kita semua tahu bahwa ada wilayah-wilayah di dunia ini yang karena tidak maksimalnya dakwah dan kemunduran kaum muslimin di sana, maka orang Islam menjadi sasaran aniaya atau bahkan sampai tinggal sejarah saja.

Para musuh Islam saling bahu-membahu untuk melawan kaum muslimin, apabila kaum muslimin tak mau berjuang untuk Islam apakah masih bisa mengaku sebagai orang Islam dihadapan Allah kelak? Barangkali kita masih bisa tenang dan merasa baik-baik saja di dunia tapi apakah kita akan merasa aman di hadapan Illahi kelak? Dan apakah layak seorang yang punya keyakinan tapi tak mau memperjuangkan keyakinannya tersebut…?

Menurut data yang disampaikan oleh Jendral Polisi Anton Tabah, jumlah umat Islam bangsa ini di awal kemerdekaannya lebih dari 95% tetapi setelah 70 tahun merdeka sekarang tinggal sekitar 85%, seakan masih tidak terlalu terasa tapi berkurangnya jumlah umat Islam di negeri ini sungguh suatu kejadian kemurtadan besar-besaran karena berjuta-juta orang muslim telah keluar dari agamanya.

Pertanyaannya, apakah kita masih akan tetap tidak akan melakukan peningkatan dalam dakwah kita? Bukan mustahil kejadian Andalusia akan berulang, karena Allah memang tak akan mencabut Islam dari muka bumi ini sampai datangnya hari kiamat, akan tetapi Allah tak pernah berjanji bahwa Islam tak akan hilang dari Indonesia.

Konspirasi Asing-Aseng Kapitalis Global, Komunis dan agama Syiah seakan telah sepakat untuk menjadikan negeri ini menjadi proyek utama mereka, Indonesia harus mereka kuasai, padahal sebagaimana jaman penjajahan dahulu, kaum yang akan menjadi halangan bagi missi mereka adalah kaum muslimin, maka jelas mereka akan melakukan berbagai strategi untuk melemahkan/menghilangkan kekuatan kaum Muslimin di negeri ini, jadi NKRI Proklamasi 1945 sebetulnya hanya akan di pertahankan oleh kaum muslimin dengan aqidah keimanan mereka, lemahnya kaum muslimin maka akan hancurlah NKRI, karena sejak jaman dahulu orang-orang yang tak bisa dibeli dengan harta dan kedudukan oleh penjajah adalah kaum muslimin khusunya para santri dan kyai.

Tak ada waktu lagi kecuali kita harus meningkatkan dakwah Islam dan melakukan berbagai strategi dalam dakwah yang dibenarkan oleh Qur`an dan Sunnah Rasul.

“….Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Q.s 13 ayat 11)

Selama ini para mubaligh/da’i yang kita kenal seakan minta dilayani dan bukan melayani umat, maka sekarang para Da`i harus meningkatkan pendekatan kepada Umat dengan pendekatan yang tepat sehingga umat tidak hanya disalah-salahkan dan dituduh dengan berbagai tuduhan jelek.

Begitu Juga para da`i harus merubah perkataan-perkataan yang tepat sesuai jenjang strata sosial, kelompok umur, letak geografis, dan tingkat pendidikan, Beliau-beliau harus melakukan berbagai tindakan sehingga umat tidak merasa sendiri untuk mempertahankan keimanan mereka.

Berbicara kepada Orang sesuai dengan Kadar Pengetahuannya.

“Kita diperintahkan untuk berbicara kepada manusia sesuai dengan kadar akal mereka masing-masing.” (HR. Muslim)

Ibarat kita memberi sepatu untuk orang lain, apakah kita akan memberinya sepatu ukuran kita atau sepatu ukurannya? Seperti itulah juga dalam menyampaikan, apakah bisa kita berbicara secara ilmiah dan akademis kepada anak-anak? apakah mereka dapat memahaminya? Tentu tidak. Karena itu, sudah selayaknya kita berbicara itu melihat dengan siapa yang kita ajak berbicara.

Imam Syafi’i pernah berkata,”Seandainya Muhammad bin Hasan itu berbicara kepada kita sesuai dengan kadar akalnya, niscaya kita tidak memahaminya, akan tetapi beliau berbicara kepada kita sesuai dengan kadar akal kita, sehingga kita memahaminya.”

Kesalahan terbesar seorang da’i adalah ketika si da’i mendekati objek dakwah dari sudut yang berlawanan. Dia telah sampai puncak dalam berbicara sedang orang yang dia hadapi belum mengerti sama sekali. Dia terlalu bersemangat menyampaikan kondisi-kondisi yang ideal yang mungkin tanpa sadar menyinggung objek dakwahnya. Dia lupa bagaimana dulu sewaktu memulai, padahal mungkin saja kondisinya dahulu jauh lebih buruk dari objek dakwah dihadapannya itu.

Karena itu, perlu bagi kita untuk memahami kondisi objek dakwah kita, memaklumi kesalahannya, tidak menjelek-jelekkan hal yang mereka sukai, serta tidak mencerca perbuatan buruknya. Sampaikan dengan baik dan sesuai dengan pemahamannya sebagaimana perkataan Ali bin Abi Thalib, “Berbicaralah kepada manusia dengan pembicaraan yang mereka pahami dan tinggalkan apa-apa yang mereka ingkari. Suka-kah kamu, (apabila karena dirimu) Allah dan Rasul-Nya didustakan?” (HR. Bukhari)

Menunda Penjelasan

“Tidak setiap yang diketahui harus dikatakan, tidak setiap yang boleh dikatakan tiba saatnya, tidak setiap yang tiba saatnya dikatakan ada pelakunya.” (Jum’ah Amin Abdul Aziz)

Imam bukhari pernah menjelaskan, “Menyembunyikan sebagian ilmu karena khawatir akan terjadi kezhaliman dan pembunuhan (itu boleh) dengan syarat ilmu itu bukan termasuk masalah hukum.” tau dapat pula dikatakan, ”Menyimpan sebagian ilmu, karena khawatir ia akan diingkari oleh orang yang belum terbiasa dan akrab dengan ilmu tersebut atau orang yang menentangnya itu diperbolehkan.” Setelah itu, Imam bukhari mengemukakakn hadist berikut: “Abu Hurairah berkata, “Aku hafal dari Rasulullah Saw dua bejana, yang satu saya tampakkan dan yang lain seandainya saya tampakkan maka leher ini pasti akan dipenggal?”.

Berdasarkan hal tersebut hendaknya para da`i/mubaligh dapat belajar bahwasanya adakalanya tidak harus mengatakan semua yang diketahuinya pada saat itu, bahkan sebaiknya menunda penjelasan itu sampai pada waktu tertentu, ketika orang yang didakwahi tersebut, bisa memahaminya, mampu dipikul oleh akal mereka. Berkaitan dengan ini, Ibnu Mas’ud mengatakan, ”Tidaklah engkau berbicara kepada mereka dengan suatu kaum dengan suatu pembicaraan dimana akal mereka tidak sampai, kecuali akan terjadi fitnah bagi sebagian mereka” (HR. Muslim).

Karena itu, sudah selayaknya bagi para pengemban dakwah, melakukan dakwah secara bertahap, secara bertahap pula dalam memberi beban kepada orang lain. Sampaikan dahulu masalah-masalah prinsip/pokok, baru meningkat ke masalah cabang. Sampaikan dahulu tentang ilmu, baru beralih ke kaidah. Sampaikan dahulu tentang kewajiban dakwah, baru beralih ke gerakan/harokah Islamiyah dan politik/siyasah Islamiyah dan seterusnya.

“ …..dan hendaklah ada di antara kamu satu golongan yang mengajak (manusia) kepada bakti dan, menyuruh (mereka berbuat) kebaikan dan melarang (mereka) dari kejahatan; mereka itu ialah orang-orang yang dapat kejayaan.” (Q.S. Ali Imron : 104.)

Rasulullah s.a.w bersabda: Harus kamu mengajak kepada kebaikan dan harus mencegah perbuatan mungkar, jika tidak maka Allah pasti akan menjadikan orang-orang jahat diantara kamu menguasai kamu, dan andaikata (ada) orang-orang baik diantara kamu, berdo`a (untuk keselamatan) maka (do`a) mereka tidak akan dijawab.

Dari ayat dan hadits tersebut diatas, dapatlah kita ketahui, bahwa Dakwah Islamiyah itu harus disampaikan kepada seluruh lapisan masyarakat. Kewajiban ini bukanlah hanya tugas para da`i/mubaligh saja tapi juga menjadi tugas tiap-tiap orang islam, masyarakat kaum Muslimin dan pemerintah-pemerintah Negara yang berdasarkan Ke-Tuhanan Yang Maha Esa, adalah merupakan satu medan dakwah, dimana kita mempunyai kewajiban untuk memperkokoh dengan Dakwah Islamiyah.

Mengingat perkembangan Dakwah Islamiyah di tanah air kita ini, yang dipandang masih banyak kekurangannya, maka setiap satu kekurangan itu harus ada yang memperbaikinya mulai dari tingkat desa sehingga dakwah Islam ini akan menjadi spirit terbentuknya bangsa, negara yang kokoh dan kuat, yang mengantarkan rakyatnya selamat dari dunia hingga akherat. Wallohul muwaffiq ilaa aqwamith thoriq, billah fi sabilill haq.*** Pucang @2015

Penulis : Yunus Anies

SebelumnyaKhutbah Shalat Idul Fitri Tahun 1435 H, Masjid Nurul Falaah Kedungpuji, Gombong SesudahnyaMELATIH ANAK AGAR MANDIRI
Cintai Nabi, Makmurkan Masjid dan Majukan Desa Cintai Nabi, Makmurkan Masjid dan Majukan Desa
Rindu kami padamu ya Rasul, Rindu tiada terperi, Berabad jarak darimu ya Rasul, Serasa dikau disini, Cinta ikhlasmu pada manusia, Bagai cahaya suwarga, Dapatkah kami membalas cintamu, Secara bersahaja. #######...
Perempuan Hebat Di Balik H.O.S. Tjokroaminoto Perempuan Hebat Di Balik H.O.S. Tjokroaminoto
“Ayahanda! Dahulu anakanda dikawinkan oleh ayah-bunda, sedangkan anakanda pada waktu itu tidak kenal dengan Mas Tjokro. Anakanda taat! Kini anakanda pun tetap taat. Kalau ayah-bunda ceraikan anakanda dari Mas Tjokro,...
Merindukan Pemimpin Sejati Merindukan Pemimpin Sejati
“….Tetapi pemimpin sejati tetap ingat; umur di dunia tidaklah akan lama, tetapi umur sejarahlah yang lebih lama.” (Buya Hamka) ###### Itulah antara lain yang ditulis oleh Buya Hamka (“Pemimpin Sejati” dalam...
Yang Muda, Yang Berprestasi : Impian Setiap Orang Tua Yang Muda, Yang Berprestasi : Impian Setiap Orang Tua
“Muhammad Al-Fatih adalah pemimpin hebat yang dalam usia sangat muda berhasil menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1543. Ia adalah contoh kisah sukses model pendidikan yang menekankan pada penanaman adab dan kesungguhan...
Cerdas dan Berkarakter: Sebuah Impian dari Pesantren Cerdas dan Berkarakter: Sebuah Impian dari Pesantren
Dalam buku “Rekonstruksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia” dikatakan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan pertama yang dikenal oleh umat Islam di Indonesia. Menurut Akbar Zainudin (Ketika Sukses Berawal Dari Pesantren,...
Mencari Teman Sejati Mencari Teman Sejati
“Selama ini, Ku mencari-cari, Teman yang sejati, Buat menemani, Perjuangan suci”. Itulah bait pertama dari sebuah lagu yang berjudul “Teman Sejati.” Dalam kaitan ini peringatan dari Buya Hamka pantas diperhatikan....


TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.