SEKILAS INFO
WAKTU :

WAKTU SHALAT, Saturday, 18 08 2018 August 2018 >

IMSYAK 04:20
SUBUH 04:34
DZUHUR 11:44
ASHAR 15:05
MAGHRIB 17:35
ISYA 18:49
Diterbitkan :
Kategori : NEWS / NEWS UPDATE
Komentar : 0 komentar

Kewajiban dakwah sudah terbebankan pada setiap pundak orang muslim yang sadar telah bersyahadat. Termasuk pada setiap generasi muda muslim yang telah memilih Islam sebagai jalan hidup.

Dari masa ke masa, generasi muslim dihadapkan pada tantangan dakwah yang berbeda tergantung perkembangan zamannya. Meskipun hal tersebut tak mengubah substansi dakwah Islam, yaitu menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran. Sifatnya pun tetap: menyeluruh, menyentuh semua sisi kehidupan.

Dari zaman Rasulullah SAW, metode dakwah berkembang menyesuaikan kultur masyarakat yang menjadi subjek dan objek dakwah. Semula secara sembunyi-sembunyi, perorangan, hingga syiar di hadapan publik. Sarananya pun ikut berkembang.

Bagaimana dengan generasi kita? Lahir di era informasi yang dapat diakses secara bebas, bahkan terjadi information overload, dakwah seperti apa yang dapat dilakukan? Menyoal dakwah, apakah media digital adalah sebuah kebutuhan?

Wiyogo Prio Wicaksono, founder kebumenmuda.com, dalam seminar “Pemanfaatan Media Digital dalam Syiar Islam” yang diselenggarakan oleh Forum Ukhuwah Remaja Islam (FURIS) di Candisari pada 26 Juni 2016 lalu, menyampaikan bahwa media digital adalah sebuah kebutuhan. Ia berbagi pengalaman selama melakukan studi di Barcelona, Spanyol.

Di tempat-tempat yang muslim bukanlah mayoritas, sangat terbatas sekali kesempatan menuntut ilmu agama dan berkumpul dengan orang-orang seiman. Media digital menjadi solusi yang sangat menenangkan: sekumpulan orang dari berbagai bangsa dan negara membentuk forum di Skype dan saling berbagi tausiyah. Portal-portal berita muslim pun jadi sumber informasi yang baik untuk mengetahui kabar dunia Islam terkini ketika media setempat tak memuat.

Lain di sana, lain di Indonesia. Informasi tentang Islam sangat melimpah, tapi justru sering membuat bingung harus percaya yang mana. Ditambah dengan netizen yang latah mengeshare info-info yang provokatif dan belum jelas valid tidaknya. Media digital, terutama media sosial, jadi ajang propaganda.

Terkait media sosial, pembicara kedua, Ustadzah Muchyani yang aktif di Kebumen sebagai aktivis syiar, guru, dan pemerhati pendidikan, menyampaikan bahwa dakwah memang saat ini tak bisa lepas dari internet.

Jika secara konvensional dakwah hanya mampu menjangkau satu per satu atau sedikit orang dan terbatas jarak, dakwah melalui internet jangkauannya tidak terbatas. Kita tidak tahu siapa yang akan ‘tersentuh’ dengan postingan-postingan kita, dimana tinggalnya, pekerjaannya, dan sebagainya. Hal ini bisa jadi pedang bermata dua. Kita juga tidak akan tahu siapa yang ‘terganggu’ dengan postingan-postingan kita.

Hal tersebut menjadi alasan yang kuat bagi kita untuk memposting dan mengeshare yang baik-baik saja, yang kita anggap akan memberi nilai tambah, kebermanfaatan bagi siapapun yang mungkin membacanya. Jadi media sosial sangat tidak bijak jika digunakan sekadar untuk mencurahkan perasaan (galau), berbagi keburukan (video porno, artikel ‘sampah’), dan sebagainya yang tidak ada manfaatnya. Kita harus bijak dalam menilai.

Sebagai pengguna pun, jika kita posting konten-konten tertentu, teman-teman kita atau siapapun yang membaca bisa dengan bebas memberikan komentar, baik komentar yang positif maupun negatif. Postingan yang negatif dan provokatif akan memancing tanggapan yang negatif juga, bahkan memancing perselisihan. Pun postingan yang kita anggap baik belum tentu mendapat tanggapan yang baik.

Warga dunia maya, netizen, bisa punya reaksi apa saja yang langsung disampaikan kepada kita. Orang-orang yang kita anggap diam pun bisa berkomentar sesukanya di dunia maya. Kita harus siap. Ketika kita menyampaikan sesuatu, adanya tanggapan adalah tanda kita didengar.

Bukan berarti media digital tak ada faedahnya. Wiyogo menyampaikan, jika digunakan dengan hati-hati dan dengan tujuan baik, media digital bisa membawa dampak kebaikan yang besar. Pembangunan image, misalnya. Ketika di televisi ramai image ‘cowok keren’ adalah yang bersih wajahnya, putih, tubuh tegap bak model, naik motor Ninja, dan memboncengkan cewek cantik, kemunculan Muzzamil Hasbalah yang video hafalan Qur’annya viral di media sosial menyingkirkan image tersebut.

Dengan ramainya share video Youtube sang hafidz tersebut di berbagai media sosial, kita mendapat informasi alternatif: ‘cowok keren’ itu yang baca Qur’annya fasih, hafalan Qur’annya banyak, dan berprestasi di kampus atau sekolahnya. Ada pergeseran yang positif dalam pembentukan citra ‘keren’ di benak kita.

Berbagai campaign sosial untuk menggalang donasi pun ramai dilakukan lewat media sosial. Artinya satu hal: kita bisa saling membantu saudara-saudara kita tanpa terbatas ruang dan waktu. Kesempatan amal tak terbatas. Begitu juga berbagai website yang menyediakan konsultasi tentang Islam, seperti persoalan syariah. Kita tak perlu bingung mencari kiai atau ustadz yang bisa ditemui untuk bertanya persoalan Islam.

Tinggal ketik kata kuncinya di mesin pencari di internet, dan berbagai jawaban akan tersedia. Selanjutnya bagaimana kita arif memilih jawaban mana yang akan diikuti dengan mempertimbangkan referensi ayat, hadist, dan kitab yang digunakan sebagai landasan.

Dari penyampaian kedua pembicara, dapat kita simpulkan bahwa media digital dalam kaitannya dengan dakwah adalah sebuah kebutuhan. Adalah kemudahan sekaligus tantangan dakwah. Aktivis syiar Islam tidak boleh menyisihkan media digital ketika para objek dakwah mereka lebih banyak beraktivitas di dunia maya.

Kesempatan menyampaikan kebaikan meluas, tanpa mengesampingkan syiar temu muka dari orang per orang, guru ke murid. Internet hanya sarana penyampaian syiar di permukaan, di garis paling luar. Sedangkan untuk membentuk kepribadian muslim yang taqwa, perlu lebih dari sekadar postingan dan artikel yang shareable yang ditulis oleh entah siapa.

Mari arif sebagai pengguna. Tak perlu latah berbagi informasi apa saja jika kita tak tahu asal-usulnya. Jika kita belum mampu menjadi agen informasi kebaikan, minimal kita tidak termasuk agen penyebar kebingungan.

Karanganyar, 30 Juni 2016

Sumber gambar : http://syariahcenter.com/menembus-batas-geografis-dan-ruang-lewat-dakwah-digital/

 

SebelumnyaPENGAJIAN NUZULUL QUR'AN DAN BAKSOS DI MASJID NURUL FALAH SesudahnyaREMAJA DAN JATI DIRI : Dalam Perspektif Islam
Cintai Nabi, Makmurkan Masjid dan Majukan Desa Cintai Nabi, Makmurkan Masjid dan Majukan Desa
Rindu kami padamu ya Rasul, Rindu tiada terperi, Berabad jarak darimu ya Rasul, Serasa dikau disini, Cinta ikhlasmu pada manusia, Bagai cahaya suwarga, Dapatkah kami membalas cintamu, Secara bersahaja. #######...
Perempuan Hebat Di Balik H.O.S. Tjokroaminoto Perempuan Hebat Di Balik H.O.S. Tjokroaminoto
“Ayahanda! Dahulu anakanda dikawinkan oleh ayah-bunda, sedangkan anakanda pada waktu itu tidak kenal dengan Mas Tjokro. Anakanda taat! Kini anakanda pun tetap taat. Kalau ayah-bunda ceraikan anakanda dari Mas Tjokro,...
Merindukan Pemimpin Sejati Merindukan Pemimpin Sejati
“….Tetapi pemimpin sejati tetap ingat; umur di dunia tidaklah akan lama, tetapi umur sejarahlah yang lebih lama.” (Buya Hamka) ###### Itulah antara lain yang ditulis oleh Buya Hamka (“Pemimpin Sejati” dalam...
Yang Muda, Yang Berprestasi : Impian Setiap Orang Tua Yang Muda, Yang Berprestasi : Impian Setiap Orang Tua
“Muhammad Al-Fatih adalah pemimpin hebat yang dalam usia sangat muda berhasil menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1543. Ia adalah contoh kisah sukses model pendidikan yang menekankan pada penanaman adab dan kesungguhan...
Cerdas dan Berkarakter: Sebuah Impian dari Pesantren Cerdas dan Berkarakter: Sebuah Impian dari Pesantren
Dalam buku “Rekonstruksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia” dikatakan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan pertama yang dikenal oleh umat Islam di Indonesia. Menurut Akbar Zainudin (Ketika Sukses Berawal Dari Pesantren,...
Mencari Teman Sejati Mencari Teman Sejati
“Selama ini, Ku mencari-cari, Teman yang sejati, Buat menemani, Perjuangan suci”. Itulah bait pertama dari sebuah lagu yang berjudul “Teman Sejati.” Dalam kaitan ini peringatan dari Buya Hamka pantas diperhatikan....


TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.