SEKILAS INFO
WAKTU :

WAKTU SHALAT, Saturday, 18 08 2018 August 2018 >

IMSYAK 04:20
SUBUH 04:34
DZUHUR 11:44
ASHAR 15:05
MAGHRIB 17:35
ISYA 18:49
Diterbitkan :
Kategori : KEDUNGPUJI NEWS / NEWS UPDATE / PENDIDIKAN / SOSIAL BUDAYA
Komentar : 0 komentar

Dari liputan media tampaknya saat ini sedang marak peristiwa yang menunjukkan hilangnya budaya ilmu di kalangan bangsa kita. Belum lama berselang terjadi kasus penistaan terhadap sosok seorang ulama yang kharismatik. Sehingga memicu nada protes dari beberapa tokoh nasional.

Padahal menurut Wan Mohd Nor Wan Daud (Budaya Ilmu : Satu Penjelasan, 2007) bahwa budaya ilmu merupakan salah satu syarat terwujudnya kejayaan suatu bangsa. Melihat kecenderungan tersebut betapa mirisnya jika marwah bangsa kita melayang karena telah kehilangan budaya ilmu.

Menurut Khalif Muammar (Faktor Kegemilangan Tamadun Islam : Pengajaran Dari Masa Lalu dalam Jurnal Hadhari, 2009) bahwa budaya ilmu adalah budaya yang diwarnai oleh kebijaksanaan dalam berpikir dan bertindak.

Masih menurut guru besar di Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA) Universitas Kebangsaan Malaysia tersebut ada lima ciri khas masyarakat yang memiliki budaya ilmu :

  1. Peranan besar ilmuwan dalam mencerdaskan dan mencerahkan masyarakat,
  2. Penghormatan terhadap otoritas,
  3. Segala persoalan dibahas dengan bijaksana dan dewasa,
  4. Pengangkatan seseorang pemimpin berdasarkan ilmu, dan akhlak,
  5. Terbuka pemikirannya dan maju cara berpikirnya,
  6. Memiliki kepribadian dan jati diri yang mantap.

Dalam catatan cendekiawan muslim terkemuka yang juga salah seorang murid dari Allahu yarham Fazlur Rahman tersebut bahwa terdapat tiga pihak yang sangat menentukan dalam usaha pembinaan budaya ilmu. Yakni para pemimpin politik, para pendidik dan para orang tua.

Dicontohkan misalnya di tingkat keluarga hendaknya para orang tua menyemai budaya ilmu di kalangan anak-anak dengan adanya perpustakaan di rumah. Lebih jauh dikatakan bahwa di sini isu pokoknya bukan masalah bahan bacaan tetapi sikap terhadap ilmu dan pembacaan “reflective”.

Semoga kerjasama yang baik antara ketiga komponen bangsa yang sangat strategis dalam pembinaan budaya ilmu tersebut bisa terus dijalin, sehingga kejayaan sebagai bangsa bisa kita jaga bersama-sama. Allohu Al-Musta’an.

Penulis: Bambang Purwanto

Ilustrasi Gambar : http://ahmadfarieds.blogspot.co.id

SebelumnyaAYO BERBAGI SesudahnyaPeringatan Isra' Mi’raj Nabi Muhammad S.A.W, KH.M. Nasrullah: Jauhi Riba dan Tumbuhkan Wirausaha bagi Remaja Masjid.
Cintai Nabi, Makmurkan Masjid dan Majukan Desa Cintai Nabi, Makmurkan Masjid dan Majukan Desa
Rindu kami padamu ya Rasul, Rindu tiada terperi, Berabad jarak darimu ya Rasul, Serasa dikau disini, Cinta ikhlasmu pada manusia, Bagai cahaya suwarga, Dapatkah kami membalas cintamu, Secara bersahaja. #######...
Perempuan Hebat Di Balik H.O.S. Tjokroaminoto Perempuan Hebat Di Balik H.O.S. Tjokroaminoto
“Ayahanda! Dahulu anakanda dikawinkan oleh ayah-bunda, sedangkan anakanda pada waktu itu tidak kenal dengan Mas Tjokro. Anakanda taat! Kini anakanda pun tetap taat. Kalau ayah-bunda ceraikan anakanda dari Mas Tjokro,...
Merindukan Pemimpin Sejati Merindukan Pemimpin Sejati
“….Tetapi pemimpin sejati tetap ingat; umur di dunia tidaklah akan lama, tetapi umur sejarahlah yang lebih lama.” (Buya Hamka) ###### Itulah antara lain yang ditulis oleh Buya Hamka (“Pemimpin Sejati” dalam...
Yang Muda, Yang Berprestasi : Impian Setiap Orang Tua Yang Muda, Yang Berprestasi : Impian Setiap Orang Tua
“Muhammad Al-Fatih adalah pemimpin hebat yang dalam usia sangat muda berhasil menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1543. Ia adalah contoh kisah sukses model pendidikan yang menekankan pada penanaman adab dan kesungguhan...
Cerdas dan Berkarakter: Sebuah Impian dari Pesantren Cerdas dan Berkarakter: Sebuah Impian dari Pesantren
Dalam buku “Rekonstruksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia” dikatakan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan pertama yang dikenal oleh umat Islam di Indonesia. Menurut Akbar Zainudin (Ketika Sukses Berawal Dari Pesantren,...
Mencari Teman Sejati Mencari Teman Sejati
“Selama ini, Ku mencari-cari, Teman yang sejati, Buat menemani, Perjuangan suci”. Itulah bait pertama dari sebuah lagu yang berjudul “Teman Sejati.” Dalam kaitan ini peringatan dari Buya Hamka pantas diperhatikan....


TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.