SEKILAS INFO
WAKTU :

WAKTU SHALAT, Sunday, 22 07 2018 July 2018 >

IMSYAK 04:21
SUBUH 04:35
DZUHUR 11:45
ASHAR 15:06
MAGHRIB 17:36
ISYA 18:50
Diterbitkan :
Kategori : EKONOMI / NEWS / NEWS UPDATE
Komentar : 0 komentar

Bersamaan dengan itu merebak pula berdirinya instistusi pendidikan ekonomi syariah. Berbagai kampus seperti berlomba-lomba mendirikan institusi pendidikan syariah, yang sebelumnya masih banyak dianggap sebagai hal yang tabu di kalangan akademisi ilmu ekonomi pada umumnya.

Ugi Suharto menambahkan pandangan positif terhadap perkembangan ekonomi Islam di tanah air. Menurutnya di samping maraknya kajian ekonomi Islam di lembaga-lembaga pendidikan juga bermunculan lembaga keuangan Islam bagai jamur di musim hujan saat ini. Pendeknya menurut pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Antarbangsa Malaysia tersebut bahwa ekonomi Islam telah memberikan satu harapan baru kepada masyarakat kita yang saat ini mengalami masalah ekonomi yang morat marit.

Harapan ini lahir dari keyakinan bahwa Islam itu memang mempunyai satu sistem ekonomi yang tersendiri, atau mungkin lahir dari rasa jemu terhadap sistem ekonomi yang ada yang hanya berpihak pada golongan yang bermodal saja. Tetapi apakah harapan ini bisa terpenuhi, hal ini tergantung pada pencapaian ekonomi Islam dalam membantu dan mengatasi masalah perekonomian di Indonesia.

Dalam catatan Sri Indah Nikensari tentang pertumbuhan bank syariah menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Menurut data Bank Indonesia, terdapat 11 Bank Umum Syariah (BUS) yang beroperasi di Indonesia saat ini dengan nilai asset per Januari 2012 sebesar Rp. 115,3 triliun, atau tumbuh 46 % dibandingkan pada Januari 2011 yang senilai Rp. 78,2 triliun. Sedangkan aset 24 Unit Usaha Syariah (UUS) per Januari 2012 adalah 28,6 triliun, atau tumbuh 63 % dibandingkan Januari 2011 yang hanya berjumlah 17,9 triliun. Selain itu asset Bank Pembiayaan Rakyat Syariah per Januari 2012  sebesar Rp. 3,61 triliun, meningkat 30,1% dibanding posisi Januari 2011 yaitu sebesar Rp. 2,77 triliun.

 Meskipun telah bermunculan bank syariah di Indonesia dengan perkembangan yang bagus ternyata masih menyisakan persoalan dalam usaha menuju Ekonomi Kaffah. Seperti yang dapat dipahami dari pernyataan A Riawan Amin. Sebab menurutnya bank syariah itu baru memerangi bunga (interest) sebagai salah satu pilar setan dalam sistem keuangan. Dua pilar setan yang lebih besar lainnya masih belum tersentuh sama sekali. Dua pilar yang dimaksud adalah uang kertas (Fiat Money) dan sebagian kecil dana yang disetorkan deposan (penyimpan uang di bank) sebagai cadangan. Inilah yang dikenal sebagai Fractional Reserve Requirement.

Masih menurut A Riawan Amin bahwa sulit rasanya mengatakan bank syariah sudah 100 persen syariah, di tengah kubangan lumpur sistem ribawi. Tetapi bukan salah bank syariah atau sistem syariah, tetapi sistem perbankan secara keseluruhan yang jelas-jelas merupakan perekonomian sistem setan (Satanic Finance). Jadi bukanlah bank syariah yang zhalim, akan tetapi sistem perbankan secara keseluruhan yang menyengsarakan, dan bank syariah berada di dalamnya.

Melihat kenyataan tersebut berarti perjuangan penegakkan syariat Islam dalam aspek ekonomi khususnya perbankan syariah masih panjang. Dalam tulisan singkat ini hanya akan mencermati uang fiat dan fractional reserve banking dan bagaimana solusinya.

Fiat Money (Uang Kertas)

Senada dengan pendapat  A Riawan Amin bahwa perekonomian sistem setan memiliki 3 pilar yaitu fiat money, fractional reserve requirement, dan interest. Muhaimin Iqbal juga menyatakan bahwa pasal-pasal awal di Article of Agreement-nya IMF telah melahirkan sistem ekonomi moneter yang seragam atau mirip satu sama lain bagi seluruh negara anggota IMF yang saat ini berjumlah 185 negara. Dengan standar tersebut seluruh sistem moneter dunia saat ini memiliki ciri khas yang sama dalam tiga hal yaitu pertama yang disebut fractional reserve banking, kedua yang disebut uang fiat (uang kertas yang tidak memiliki nilai instrinsik), dan ketiga menyangkut sistem bunga atau riba.

Uang fiat adalah uang yang diciptakan tanpa didukung dengan logam mulia seperti emas. Uang kertas menjadi berharga dan secara sah berfungsi karena diterbitkan oleh pemerintah yang diakui. Artinya, kalau pemerintah itu kehilangan kepercayaan, maka uang itu menjadi tidak berharga. Dengan kata lain uang kertas, yang tak memiliki nilai instrinsik, tidak bisa diandalkan sebagai alat penyimpan nilai. Koin emas yang diterbitkan oleh sebuah kerajaan atau pemerintahan tetap bisa beredar dan bernilai, meskipun penguasa yang menerbitkannya sudah sirna.

Menurut Muhaimin Iqbal bila suatu negeri menggunakan uang fiat negara lain maka semakin banyak kekayaan negeri tersebut lari ke negeri yang mengeluarkan uang fiat yang digunakan. Betapa tidak mereka hanya bermodal kertas (dan kadang hanya catatan di komputer), kita beri mereka kekayaan yang sesungguhnya. Lebih buruk lagi adalah kita kehilangan kedaulatan.

Hal tersebut diatas, sangat logis mengingat setiap kita menggunakan US$ 1, kita memberikan keuntungan pemerintah Amerika Serikat US$ 0.95 karena untuk memproduksi uang kertas tersebut ongkosnya hanya US$ 0.05. Keuntungan yang sangat menyolok inilah yang disebut seigniorage. Tentu seigniorage akan jauh lebih besar apabila yang kita gunakan uang US$ 100. Di sinilah harus disadari ternyata proses lepasnya kedaulatan dapat melalui mata uang.

Masih segar dalam ingatan kita bagaimana pada tanggal 15 Januari 1998, Presiden Republik ini harus mengikuti kemauan IMF dengan menandatangani 50 butir kesepakatan. Di butir-butir tersebutlah Indonesia kehilangan kedaulatan ekonominya. Sebenarnya hal tersebut terjadi sejak bergabung dengan IMF pada 21 Februari 1967, penandatanganan kesepakatan tanggal 15 Januari 1998 hanya mengetatkan kontrol IMF terhadap Indonesia.

Fractional Reserve Banking

Menurut Muhaimin Iqbal adanya fractional reserve banking memungkinkan dunia perbankan menciptakan uang bank atau uang giral yang jauh lebih besar dari cadangannya. Penciptaan uang atau money creation ini dilakukan melalui serangkaian pinjaman dari satu bank ke bank lainnya.

Masih menurut Muhaimin Iqbal seandainya pinjaman disalurkan ke sektor riil yang meningkatkan produksi dan menciptakan lapangan kerja, maka hal ini akan bermanfaat bagi masyarakat karena produksi naik bersamaan juga daya beli masyarakat naik, artinya ada yang menyerap produksi tambahan atau dengan kata lain kenaikan kebutuhan diimbangi dengan kenaikan produksi barang sehingga tidak terjadi kenaikan harga-harga. Namun kenyataannya yang terjadi di pasar, tidak selalu demikian. Sehingga jumlah uang terus naik tetapi produksi tidak maka terjadilah inflasi yang menyengsarakan rakyat. Dipinjamkan ke sektor riilpun apabila sektor tersebut tidak langsung berhubungan dengan produksi kebutuhan mayoritas masyarakat, maka kenaikan jumlah uang bank tersebut juga tidak berguna bagi masyarakat malah akan menjadi beban masyarakat

Solusi

Selama ini perbankan Indonesia termasuk perbankan syariah dengan ketat diatur dan disupervisi oleh Bank Indonesia. Sementara itu karena sebagai bank central. Bank Indonesia harus tunduk pada Article of Agreement yang ada di IMF, maka secara tidak langsung bank syariah kita juga terkendalikan oleh IMF. Jadi kita dijajah ekonominya dan dieksploitasi kekayaan alam kita.

Menurut Zaim Saidi karena rasionalisme dan humanisme telah mengubah cara hidup kaum muslimin dalam sistem sekuler, dengan seluruh tatanan sosial politiknya, yang menjadikan riba sebagai basisnya. Maka untuk keluar dari situasi tersebut umat Islam harus menjadikan muamalat sebagai jalan keluar. Muamalat yang dimaksud di sini dalam arti yang khusus, yaitu interaksi sosial dan politik, yang seharusnya dijalankan umat Islam. Pada prinsipnya adalah kita harus kembali pada mata uang yang ditetapkan oleh Rasulullah Saw, yaitu Dinar emas dan Dirham perak. Dan untuk ini maka kaum muslimin harus mengembalikan sunnah yang lain yaitu berjamaah.

Masih menurut Zaim Saidi tanpa amirat, syariat Islam hanya menjadi slogan dan idealisme. Padahal Islam adalah perilaku, eksistensialisme tradisi yang telah berlangsung dari seorang Rasul, ditularkan kepada para sahabatnya, tabi’in, tabi’it tabi’in, terus ditransmisikan kepada generasi berikutnya, sampai kemudian dihentikan oleh modernisme, rasionalisme, dan humanisme.

Solusi yang diberikan Zaim Saidi bahwa umat Islam hendaknya menerapkan konsep berjamaah sejalan dengan pendapat Shalah Shawi.

Menurutnya mengikuti jamaatul Muslimin adalah tuntutan dakwah di masa kini. Karena itulah satu-satunya jalan keluar dari fitnah yang melanda realitas kontemporer kita. Beliau mengacu pada dalil bahwa Nabi Saw, telah menjadikannya sebagai jalan keluar dari fitnah, seperti yang disebutkan dalam hadits Hudzaifah, “Apa yang engkau perintahkan kepadaku, wahai Rasulullah, bila saya menemui masa itu?” Rasulullah Saw menjawab, “Kamu ikuti jamaatul muslimin dan imam mereka”. Rasul tidak memberikan alternatif lain sesudah itu selain i’tizal (meninggalkan firqah-firqah), walaupun harus menggigit akar pohon hingga menemui ajal dalam keadaan demikian. Tidak ada hukum lain setelah hukumnya, dan tidak ada keterangan lain setelah keterangannya.

Sebagai penguat argumentasi tentang keharusan pemakaian Dinar dan Dirham sebagai pengganti uang fiat patut dicermati informasi dari Muhaimin Iqbal. Menurutnya banyak sekali manfaat dari penggunaan Dinar dan Dirham :

  1. Dinar dan Dirham adalah mata uang yang stabil sepanjang zaman, tidak menimbulkan inflasi dari proses penciptaan uang atau money creation dan juga bebas dari proses penghancuran uang atau yang dikenal dengan money destruction.
  2. Dinar dan Dirham adalah alat tukar yang sempurna karena nilai tukarnya terbawa (inherent) oleh uang dinar dan dirham sendiri bukan karena paksaan legal seperti mata uang kertas yang nilainya dipaksakan oleh keputusan yang berwenang.
  3. Penggunaan Dinar dan Dirham dapat mengeliminir penurunan ekonomi dan resesi karena dalam sistem dinar dan dirham setiap transaksi akan didasari oleh trnasaksi di sektor riil.
  4. Penggunaan Dinar dan Dirham dalam suatu negara akan mengeliminir resiko mata uang yang dihadapi oleh negara tersebut, apabila digunakan oleh beberapa negara yang berpenduduk Islamnya mayoritas akan mendorong terbentuknya blok perdangan Islam.
  5. Penggunaan Dinar dan Dirham akan menciptakan sistem ekonomi yang adil berjalan secara harmonis dengan sektor riil. Sektor riil yang tumbuh bersamaan dengan perputaran uang dinar dan dirham akan menjamin ketersediaan kebutuhan masyarakat pada harga yang terjangkau.
  6. Berbagai masalah sosial seperti kemiskinan dan kesenjangan akan dengan sendirinya menurun atau bahkan menghilang.
  7. Kedaulatan negara akan terjaga melalui kestabilan ekonomi yang tidak terganggu oleh krisis moneter atau krisis mata uang yang menjadi pintu masuknya kapitalis-kapitalis asing untuk menguasai perekonomian negara dan akhirnya juga menguasai politik keamanan sampai kedaulatan negara.
  8. Hanya uang emas (Dinar) dan uang perak (Dirham) yang bisa menjalankan fungsi uang modern dengan sempurna yaitu fungsi alat tukar (medium of change), fungsi satuan pembukuan (unit of account), dan fungsi penyimpanan nilai (store of value).

Demikian uraian singkat mengenai keberadaan bank syariah yang telah berperan dalam memerangi bunga sebagai salah satu elemen dari jerat riba. Dan terhadap dua pilar setan yang lain dari sistem keuangan yakni uang fiat dan fractional reserve banking dapat diatasi dengan kembali pada praktik muamalat yaitu dengan penggunaan uang Dinar dan Dirham dan melaksanakan konsep berjamaah. @maspur2015

Penulis : Bambang Purwanto, S.Ag. (Ketua Takmir Masjid Nurul Falaah Kedungpuji, Gombong)

Sebelumnya31 Manfaat Buah Naga Untuk Kesehatan SesudahnyaKhutbah Shalat Idul Fitri Tahun 1435 H, Masjid Nurul Falaah Kedungpuji, Gombong
Budaya Silaturahmi : Tautkan Hati Lintas Generasi Budaya Silaturahmi : Tautkan Hati Lintas Generasi
Salah satu yang khas dari umat Islam bangsa Indonesia adalah budaya silaturahmi. Karena dilakukan dalam rangkaian perayaan Idul Fitri. Buktinya antara lain adalah saling mengunjungi di antara saudara. teman dan...
Jamaah Masjid Nurul Falaah Kedungpuji Galang Dana Peduli Palestina Jamaah Masjid Nurul Falaah Kedungpuji Galang Dana Peduli Palestina
KEBUMEN (kebumenekspres.com) – Masjid Nurul Falaah Desa Kedungpuji Kecamatan Gombong peduli dengan kondisi Umat Muslim di Negeri Syam. Muslim satu dengan muslim yang lain merupakan saudara, dengan demikian penderitaan Umat...
Warga Berburu Takjil di Pasora Desa Kedungpuji Warga Berburu Takjil di Pasora Desa Kedungpuji
KEBUMEN (kebumenekspres.com) – Masjid Nurul Falaah yang berada di Desa Kedungpuji Kecamatan Gombong memiliki tradisi tersendiri saat bulan ramadan. Selama sebulan penuh, masjid tersebut menggelar program Pasar Sore Ramadhan (Pasora)....
Berdayakan Ekonomi Umat, Takmir Masjid Nurul Falah Gelar Pasar Sore Ramadan Berdayakan Ekonomi Umat, Takmir Masjid Nurul Falah Gelar Pasar Sore Ramadan
Gombong, (kebumen.sorot.co) – Dalam rangka mewujudkan masjid sebagai pusat peradaban islam, Takmir Masjid Nurul Falaah, Desa Kedungpuji, Kecamatan Gombong menggelar Pasar Sore Ramadan (Pasora). Pasora tersebut merupakan salah satu program tahunan...
Saatnya Melanjutkan Warisan Islam : Sebuah Renungan Saatnya Melanjutkan Warisan Islam : Sebuah Renungan
Catatan kritis Adian Husaini pantas direnungkan. Terlebih dalam kaitan dengan momentum peringatan Dekrit Presiden yang ke-58 pada tanggal 5 Juli 2017. Telah dinyatakan oleh salah seorang Cendekiawan Muslim dari Universitas...
Saatnya Dakwah Ekonomi Dilaksanakan Saatnya Dakwah Ekonomi Dilaksanakan
GOMBONG (NurfalNews) – Mayoritas masyarakat masih cenderung memaknai agama hanya sebagai urusan ukhrowi (akherat) semata. Padahal ajaran dalam agama sebenarnya telah lengkap untuk mengatur semua sendi kehidupan. Untuk itu untuk...


TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.